Kamis, 01 Januari 2015

Pengayom Anak Berkebutuhan Khusus

Kompas, 30 Januari 2014

oleh: Dian Dewi Purnamasari

Kita sering kasian melihat orang-orang berkebutuhan khusus dan orang-orang yang susah untuk mendapatkan pekerjaan, namun hanya merasa simpati tetapi tidak melakukan apa-apa.
Berbeda dengan Madya Putri Andang (51), dimana di sela-sela pekerjaannya sebagai dokter gigi, ia juga giat mengelola usaha mikro, kecil, dan menengah kerajinan tangan berbahan dasar karung goni. Ia melatih ibu-ibu rumah tangga, anak-anak berkebutuhan khusus dan siapa saja yang ingin belajar membuat kerajinan tangan.
Ia sudah merintis usahanya ini selama empat tahun dan sekurangnya 25 anak penyandang cacat tunarungu dari Jakarta Selatan dan Depok telah bergabung. Ada yang mengerjakan kerajinan tangan tersebut di rumah lalu menyetorkannya setelah selesai dan ada yang langsung mengerjakan di rumahnya sampai selesai.
Mereka dibayar Rp25.000,00 per hari, bagi mereka itu sudah sangat membantu dan bahkan ada diantara mereka yang menabung setengahnya untuk kuliahnya nanti.
Menurut Madya, banyak anak berkebutuhan khusus yang bingung setelah lulus sekolah mau bekerja apa karena banyak perusahaan yang menolak mereka sehingga belajar berwirausaha adalah pilihan yang tepat bagi mereka.
Usahanya ini berawal dari hobinya merajut, sejak dulu ia gemar belajar secara otodidak. Ia selalu memperhatikan kerajinan tangan yang ada di mall atau toko dan sesampainya di rumah berusaha ia tiru dengan menambahkan modifikasi-modifikasi tertentu. Selain itu, ia mendapatkan ide-ide kreatif dari majalah atau ketika berselancar di dunia maya. Garasi di rumahnya pun ia ubah menjadi tempat pembuatan kerajinan tangannya itu, mulai dari mencuci karung goni dengan cairan khusus sampai menjadi bersih, steril kemudian dikeringkan dan siap untuk diubah menjadi tas jinjing, tas selempang, wadah selampai, penjepit rambut, bros, taplak meja, dompet, dan penutup baju.
Produk-produk hasil usahanya ini pun disambut positif oleh masyarakat, apalagi ia sering mengikuti pameran-pameran yang diselenggarakan oleh Kota Jakarta Selatan ataupun Dinas Perindustrian dan Energi Provinsi DKI Jakarta dan juga laku di luar negeri seperti Jerman, Hongkong dan Uni Emirat Arab. Hal ini yang mengantarkannya mendapat berbagai penghargaan yang bergengsi.
Keberhasilannya ini bukan tanpa tantangan, ia harus mengajar anak-anak berkebutuhan khusus tersebut dengan tekun dan sabar, bahkan ia harus belajar bahasa isyarat selama tiga bulan agar dapat berkomunikasi dengan mereka. Ia mengatakan tidak masalah jika kelak ada anak didiknya yang membuka usaha sendiri, malah ia bangga bisa menjadi guru yang baik.
Inspirasi berbagi bersama ia dapatkan dari nasihat orangtuanya. Ia juga belajar dari melihat ibunya mengajar ibu-ibu rumah tangga yang merupakan istri dari pegawai perkebunan ayahnya untuk membuat kerajinan tangan. Ia ingat kata-kata ibunya bahwa lebih baik kaya ilmu dari kaya harta serta ilmu yang berguna adalah ilmu yang bermanfaat bagi sesama.
Berkat hal itu, sekarang Madya tidak hanya berwirausaha tetapi juga sering dipanggil sebagai pembicara di sejumlah kota di Indonesia.
Bagi Madya, hidup adalah pilihan. Ia merasa semakin bermanfaat ketika bisa berkontribusi terhadap sesama. Sebelumnya, tidak pernah tebersit di pikirannya menjadi seorang wirausaha sosial. Berkat kegigihan dan ketekunannya, hobi berkreasi justru mengantarkan dirinya pada pencapaian saat ini.
Madya pun masih memiliki mimpi. Ia ingin membuat taman khusus yang bisa diakses penyandang disabilitas dari seluruh kalangan.

Menurut saya, orang-orang seperti Ibu Madya ini sangat dibutuhkan Indonesia karena sangat banyak orang-orang berkebutuhan khusus yang sangat membutuhkan bantuan, dan seharusnya pemerintah membuat program-program seperti ini. 

Gambar.1.Madya P. Andang
  
Madya P Andang
♦ Lahir: Jember, 15 Oktober 1963
♦ Anak: 
- Raezika Radhina P (24)
- Gilang Kumara (19)
♦ Pendidikan: Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya
♦ Penghargaan:
- Juara I Produk Unggulan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Tingkat Nasional 2014
- Juara I Produk Unggulan DKI Jakarta
- Juara II Produk Kreatif dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau 2012
- Penghargaan Women Entrepreneur Yayasan Kuala Swadaya 2013

Sumber: print.kompas.com
Gambar.1.http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000010767469



Senin, 29 Desember 2014

Kita Semua adalah Guru

Kompas, 29 Desember 2014

oleh:

Ketika sedang liburan, kadang kita bersama keluarga menghabiskan waktu bersama dengan berlibur ke suatu tempat yang indah dan menarik. Namun, kadang saking asyiknya merasakan nikmatnya liburan, kita tidak menyadari atau pura-pura tidak menyadari keadaan penduduk sekitar kita yang memprihatinkan.
Jami Ngadiono (30) adalah orang yang sadar dan peduli pada penduduk sekitar itu, sehingga ia mendirikan komunitas 1000_Guru yang memiliki konsep dan tujuan yang sederhana yaitu agar para pengunjung bisa mengajar atau memberi motivasi kepada anak-anak sekolah setempat, untuk mengenal dunia secara lebih luas. Jadi wisatawan bukan hanya berlibur dan tidak menyadari keadaan penduduk sekitar, melainkan sekaligus berkontribusi positif dalam bidang pendidikan dengan mengajar.
Relawan dapat mendaftar di situs 1000_Guru, yang setelahnya akan dipilih 30 orang dari latar belakang yang berbeda untuk pergi ke sekolah yang membutuhkan selama satu pekan.
Relawan tidak boleh menginap di hotel ataupun losmen melainkan menginap di sekolah untuk merasakan betapa kurangnya fasilitas yang ada di sekolah tersebut. Mereka juga harus menanggung biaya perjalanan masing-masing, membawa sumbangan seperti peralatan sekolah, mainan yang mendidik serta peralatan olahraga. Mereka tidak mengajarkan anak-anak di sekolah tersebut mengenai pelajaran umum seperti matematika, fisika, bahasa inggris dan sebagainya, melainkan membagi dan menceritakan pengalaman mereka tentang pekerjaan mereka, pengalaman-pengalaman menarik dan bermain bersama. Hal ini, menurut Jami sangat diperlukan anak-anak tersebut supaya mereka juga tahu tentang dunia luar dan mengetahui pengetahuan-pengetahuan yang menarik. 
Jemi sendiri tidak pernah berpikir akan mendirikan komunitas 1000_Guru ini karena dulunya ia berasal dari keluarga yang tidak berkecukupan, Ayah dan Ibunya bersusah payah menyekolahkan dia dan saudara-saudaranya. 
Pada suatu hari datang seorang tamu laki-laki yang mengatakan akan menyekolahkan Jemi di Jakarta, Ayah dan Ibu Jemi sangat senang karena kedua kakak di atas Jemi harus putus sekolah dan tidak sampai tamat SMA karena kurangnya biaya, sehingga mereka mengaharapkan Jemi bisa lanjut sampai lulus SMA.
Akhirnya Jemi pun berangkat ke Jakarta, dan alangkah kaget dan marahnya dia mengetahui ia dimasukkan dalam panti asuhan padahal masih mempunyai ayah dan ibu, ia merasa terbuang karena hal itu. Namun, semakin lama Jemi mulai mengerti dan ia pun berusaha belajar dengan baik agar dapat lulus SMA dan membahagiakan ayah dan Ibunya.
Setelah lulus SMA, Jemi lalu bekerja di pabrik plastik namun tidak bertahan lama karena ia mempunyai kemampuan yang lebih daripada itu. Ia kemudian giat bekerja dan menabung agar bisa melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi. Kemudian, ia mengambil program diploma 3 tahun untuk program studi Penyiaran di Bina Sarana Informatika. Kuliah Jemi juga tidak bertahan lama, karena ia menyadari pendidikan bukan hal yang ia butuhkan karena ia telah bekerja diberbagai rumah produksi sebagai juru kamera. Ia lalu fokus pada pekerjaannya itu, dan melalui pekerjaannya itulah ia bisa mendatangi tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan bisa dicapai. 
Ketika pergi ke desa-desa dan wilayah terpencil untuk mencari lokasi syuting yang bagus, ia melihat banyaknya anak-anak usia sekolah yang tidak mendapat pendidikan yang layak. Ia lalu berinisiatif untuk berbagi pengalamannya kepada anak-anak itu. 
Sejak saat itu, setiap pergi ke suatu tempat, Jemi selalu meluangkan waktunya untuk pergi ke sekolah-sekolah dan meminta izin kepada kepala sekolah dan guru-guru untuk diizinkan berbagi pengalamannya. 
Jemi lalu mengunggah foto dan cerita pengalamannya di media sosial dan mendapat respon positif dari teman-teman dan orang-orang penggemar wisata (backpacker) yang tertarik membantu. Dari situlah komunitas 1000_Guru dilahirkan dan saking populernya gerakan tersebut, setiap bulan ada 200 sampai 300 orang yang mendaftar untuk ikut kunjungan bulanan. Bahkan, kini komunitas 1000_Guru memiliki cabang di Makassar, Surabaya, Bandar Lampung dan Tangerang.
Jemi mengatakan ia senang makin banyak orang yang peduli dengan pendidikan. Namun itu belum cukup karen seharusnya semua kalangan masyarakat ikut terlibat karena kita semua adalah guru.

"Kita semua adalah guru" adalah ungkapan yang diungkapkan oleh Jemi, dan menurut saya sangat mendalam artinya. Setelah mendengar ungkapan itu, saya menjadi sadar kalau memang semua orang bisa menjadi guru dan bahkan seorang tukang becak pun bisa menjadi guru dengan menjadi teladan dalam bekerja keras dan pantang menyerah. Mengajar anak-anak bukan hanya dalam berbagai ilmu pengetahuan seperti matematika dan lainnya tetapi melalui pengalaman-pengalaman dan pekerjaan kita. Jemi adalah satu lagi contoh anak muda yang menginspirasi kita semua. :)

Gambar.1.Jemi Ngadiono

 Jemi Ngadiono
♦ Tempat, tanggal lahir: Tulang Bawang, Lampung, 11 Mei 1984
♦ Ayah: Jamari (almarhum)
♦ Ibu: Suwarti
♦ Pendidikan: 
- D-3 Jurusan Penyiaran Bina Sarana Informatika (tidak tamat)
- SMA Panti Asuhan Pondok Taruna, Jakarta Timur
- SMPN 3 Banjar Agung, Tulang Bawang, Lampung
 
Sumber: print.kompas.com
Gambar.1. http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000010856637

Sabtu, 27 Desember 2014

Teknologi untuk Kebahagiaan Manusia

Kompas, 27 Desember 2014

oleh: Herlambang Jaluardi & Wisnu Nugroho




Baru-baru ini lima mahasiswa UGM meraih penghargaan atas aplikasi buatan mereka di Sillicon Valley, Amerika Serikat. Dan orang yang paling berjasa atas pencapaian itu adalah Daniel Oscar Baskoro.
Pada awal Desember 2014 ini, Oscar dan lima kawannya di UGM: Bahrunnur, Zamahsyari, Sabrina Woro Anggraini, Fansyuri Jenar, dan Maulana Rizki, datang ke SIllucon Valley dan meraih penghargan atas pembuatan alpikasi penanganan bencana untuk pemakai perangkat android yaitu penghargaan Best Public Safety Application untuk perangkat lunak Realivedari dua perusahan informasi raksasa AS, AT&T dan IBM.
Realive adalah pengembangan dari aplikasi yang mereka kembangkan awal tahun ini, Quick Disaster. Sebelumnya, Quick Disaster mendapat penghargaan Global Winner dari Bank Dunia di London, Inggris, Juli 2014. Dua aplikasi itu dibuat untuk menjawab persoalan harian.
Realive juga seperti smart watch yang memberitahu pengguna informasi mengenai bencana yang berada di sekitar kita, korban serta aparat yang menangani.
Alpikasi ini muncul karena adanya bencana gempa yang mengguncang kota tempat tinggal Oscar di Yogyakarta pada Mei 2006 silam.
Pada waktu bencana itu terjadi, orang-orang panik dan bingung mencari tempat untuk menyelamatkan diri,-mau ke selatan ada isu tsunami, mau ke utara Gunung Merapi mau meletus. Karena itu menurutnya alpikasi ini menjadi sangat membantu. Oscar juga sering menjadi relawan ketika terjadi bencana sehingga ia sangat mengetahui bahwa relawan membutuhkan alpikasi ini untuk memudahkan mereka, dan memang alpikasi ini sebenarnya dibuat untuk para relawan.
Oscar pertama kali  mengetahui internet adalah pada saat SD ketika ia membuat email untuk menghubungi ayahnya yang sedang menyelesaikan doktoralnya di Liverpool, Inggris.
Sejak saat itu, Oscar sangat tertarik pada teknologi informasi khususnya internet dan mencetak banyak prestasi pada masa sekolahnya.
Kecintaannya pada teknologi tidak lantas menjadikannya anak yang kutu buku dan tidak suka bergaul, ia malah sangat aktif berorganisasi sampai pernah terpilih menjadi ketua orientasi mahasiswa baru.
Oscar juga merupakan duta Ambassador untuk Google dan menjadi orang pertama di Indonesia yang memiliki smart watch dan Google glass.
Saat ini Oscar sedang berusaha merampungkan skripsinya yang bertema pengolahan big data. Ia mengatakan bahwa ia hendak mengamalkan ilmunya sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan, terutama di negara berkembang.

Oscar adalah anak muda yang patut dijadikan panutan bagi anak muda lainnya, dimana pada usianya yang masih muda ia bisa menorehkan prestasi yang begitu gemilang dan mengaharumkan nama Indonesia. Saya pribadi sangat kagum padanya dan membuat saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri apa yang sudah saya lakukan selama 18 tahun saya hidup di dunia ini?



Daniel Oscar Baskoro
♦ Lahir: Yogyakarta, 10 Juli 1992
♦ Pendidikan: 
- SD Tarakanita, Yogyakarta, 2004
- SMP Stella Duce I, Yogyakarta, 2007
- SMA Kolese De Britto, Yogyakarta, 2010
- Fakultas MIPA Program Studi Ilmu Komputer, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (sekarang)
♦ Pengalaman Organisasi:
- Google Student Ambassador South East Asia
- Google Business Group
- Google Developer Group
- Code Project International
- Peneliti Muda di Kementerian Riset dan Teknologi
- Pringwulung Social Communication Commission
♦ Penghargaan:
- Best Public Safety Application, dari AT&T dan IBM, di Silicon Valley, AS, 2014
- World Bank Global Winner Award, London, Inggris, 2014
- Jenesys Winner, dari Pemerintah Jepang, 2014
- 10 Mahasiswa Terbaik, Direktorat Kemahasiswaan UGM, 2014
- XL Axiata Future Leaders, 2013
- Google Geo Good People, AS, 2013
- Google Student Ambassador South East Asia, 2013
- Medali Emas dan Pemenang Favorit Lomba Foto Kebudayaan dan Pariwisata tingkat Nasional, 2010
- Think Quest International Achievement, Oracle, AS, 2008
- Medali Emas Kompetisi Desain Web, Kementerian Pendidikan, 2006

Sumber: print.kompas.com

Sabtu, 29 November 2014

Hidup Seribu Tahun dengan Sejarah

Kompas, Sabtu, 29 Desember 2014

Oleh:


Binton Nadapdap (44) adalah salah satunya, ia ingin mengukir namanya hingga seribu tahun. Dan ia ingin meninggalkan koleksi berharganya ini bukan hanya untuk anak cucunya tetapi juga untuk generasi bangsa Indonesia.
Benda bersejarah mewujud dalam buku, komik, manuskrip, lukisan, foto dan klise, uang kuno, hingga prangko edisi khusus. Semua benda itu penting untuk menjaga ingatan sejarah Indonesia.
Tidak mudah bagi Binton untuk merawat semua koleksi benda-benda sejarahnya itu. Ia sempat bertanya kepada dirinya sendiri untuk apa dan siapa koleksinya itu. Ia juga berpikir seharusnya pemerintah membantu merawat benda-benda bersejarah itu. Namun, ia sudah tidak mempermasalahkannya lagi karena itu sudah menjadi kesenangannya dan ia sangat menyukai sejarah.
Melalui proses pengoleksian ini, Binton kemudian mempunyai banyak kenalan, mulai dari orang-orang yang menawarkan benda-benda bersejarah, sesama kolektor hingga orang-orang yang membutuhkan koleksi yang dimilikinya untuk tugas belajar, penelitian, ataupun bahan tulisan.
Dari salah satu koleksi foto klise yang dimilikinya, Binton bisa berkenalan dengan almarhum Taufik Kiemas. Pasalnya, Binton punya foto negatif atau klise perkawinan Taufik dengan Megawati Soekarnoputri.
Binton juga memiliki foto-foto demonstrasi mahasiswa menentang korupsi sejak dulu. Menurutnya, ini adalah bukti korupsi dari dulu sampe sekarang masih menjadi persoalan yang serius.
Binton juga tidak keberatan menyumbangkan hasil koleksi klise bersejarahnya kepada Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Ia menyumbangkan klise foto soal Konferensi Pers Departemen Luar Negeri Republik Rakyat Tiongkok pada 2 Oktober 1967, Demonstrasi KAPPI/KAPI di DPR-GR soal pembelian mobil Holden pada 21 Oktober 1967, Hotel Indonesia, Monumen Nasional, dan Sarinah tahun 1967.
Ia juga tidak keberatan menyumbangkan koleksi lukisan Basoeki Abdullah yang terdapat tanda tangan Basoeki Abdullah untuk melengkapi koleksi Museum Basoeki Abdullah.
Binton mempunyai keinginan untuk membuat sebuah buku sejarah menarik dari banyaknya koleksi klise dan foto sejarah yang dimilikinya.
Ia ingin membuat sebuah buku tentang Bung Karno dan Soeharto dari koleksi klise foto yang dimilikinya. Binton yakin fotonya otentik karena belum tentu ada yang punya, apalagi ia memiliki klisenya. Rencananya, ia ingin membuat 300 lembar, namun ia masih menunggu adanya sponser karena biayanya besar.
Merawat koleksi klise dan foto bersejarah tentu tidak mudah, apalagi koleksi klise Binton juga sudah unik, menunjukkan perjalanan perubahan fotografi, dari klise berukuran besar hingga kecil.
Meletakkan koleksinya dalam brankas tahan api dan menyebarkan koleksinya di tiga lokasi rumahnya yang berbeda dirasa tidak cukup. Binton secara bertahap mendigitalisasi foto dan klise itu. Dan untuk itu, ia harus turun tangan sendiri karena takut ada petugas yang "nakal" yang memindahkan atau mengambil koleksinya itu.
Istrinya sampai kaget mengetahui berapa besar uang yang dihabiskan oleh Binton. Namun, untungnya istri dan anak-anaknya sekarang mendukung dan ikut dilibatkan. Perburuan benda-benda sejarah juga kadang sekalian untuk liburan keluarga.
Menurut Binton, kolektor foto bersejarah per orangan tidak banyak. Namun, dia merasa sayang jika foto bersejarah itu musnah. Apalagi, negara belum memperhatikan sepenuhnya soal sejarah.
Ia merasa bangga memberikan koleksinya pada ANRI dan merasa senang hanya karena mendapatkan selembar kertas terima kasih karena itu sudah merupakan pengakuan.
Sebenarnya, awal mula Binton hingga menjadi pengoleksi adalah sangat sederhana. Ia mendapatkan hadiah sebuah lukisan kapal dari nasabah tempat ia bekerja. Binton kemudian penasaran akan asal-usul kapal tesebut, hingga ia pergi ke Pasar Senen untuk mencari-cari buku tentang kapal itu. Ia mendapatkan banyak buku dan komik lama, dan pada buku tersebut terselip foto bersejarah. Sejak itulah ia tertarik dan asik mencari foto-foto bersejarah.
Binton meyakini, untuk menjadi kolektor tidak mesti harus kaya dulu seperti dirinya yang hanya pegawai. Dia mencoba berjualan lukisan, yang uangnya dipakai untuk memburu koleksi-koleksi benda bersejarah.
Kini, dia tidak melepas koleksinya. Sebab, dia punya target untuk mewariskan semua koleksinya ini kepada anak cucu dan bangsa ini dalam suatu museum yang tertulis namanya. Dengan demikian, dia bisa hidup seribu tahun.
Gambar.1.Binton Nadapdap bersama koleksi foto bersejarahnya


Bapak Binton ini benar-benar kolektor sejati, apalagi barang-barang koleksinya adalah benda-benda bersejarah yang memang harus kita rawat dan jaga. Ia adalah sosok inspiratif yang kadang kita tidak sadari kehadirannya. Seharusnya kita lebih peduli lagi tentang benda-benda bersejarah yang ada di sekitar kita, bukan berarti kita harus menjadi kolektor, tetapi menghargai dan tidak merusak benda-benda sejarah sudah merupakan langkah awal yang baik dalam menjaga benda-benda sejarah yang ada.
 
Binton Nadapdap
♦ Lahir: Pematang Siantar, 5 Oktober 1970
♦ Pendidikan:
- SD-SMA di Pematang Siantar
- S-1 STIA YAPPAN Jakarta, Jurusan Administrasi Niaga, 1996
- S-2 STIE IPWI Jakarta, Jurusan Sumber Daya Manusia 2000
♦ Karier:  
- 1988-1990  mengajar akuntansi dan hitung dagang di Talona Kursus dan Institut Modern Gandhi Kotamadya P Siantar (sekolah SMA sambil bekerja).
- 1990-sekarang   bekerja di Bank Rakyat Indonesia
♦ Penghargaan:
- Rekor spektakuler piagam penghargaan sebagai pelopor kolektor buku termuda dan terbanyak di Indonesia dari Yayasan Profesi Indonesia, diserahkan oleh Letjen Sutiyoso (2010)
- Piagam penghargaan sebagai Citra Insan Pembangunan Indonesia (2010)
♦ Kegiatan organisasi dan komunitas:
- Pendiri/pemilik: www.kolektor.indonesia.com, komunitas para kolektor barang seni, buku, prangko, foto bersejarah, komik, uang kuno, lukisan
- Pendiri/pemilik:www.rumahinovasi.com, komunitas inovasi, wadah inovator muda
- Kegiatan menyumbangkan buku ke sekolah-sekolah, komunitas, dan yayasan sebanyak 95 kali
- Kegiatan menyumbang foto-foto bersejarah ke ANRI

Sumber: www.print.kompas.com
Gambar.1.http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000010246425



Jumat, 28 November 2014

Dynand Fariz Menggali Tambang Kreativitas dari Jember

Kompas, Jumat, 28 November 2014

Oleh:


Dynand Fariz (51) adalah seorang designer yang meraih Best National Costume Miss International 2014 di Tokyo, 11 November atas designnya uaitu Pakaian adat Lampung bertema ”Tale of Siger Crown”.  
Ini baru langkah awal Fariz meraih mimpi Indonesia menjadi pemimpin dunia melalui kreativitas seni. 
Mata Fariz berkaca-kaca saat mendampingi Puteri Indonesia Lingkungan 2014 Elfin Pertiwi yang mengenakan rancangannya kembali dari Tokyo. Padahal, ini bukan kali pertama Fariz meraih prestasi di ajang internasional. Karyanya kerap menang di kontes pemilihan pria tingkat internasional.
Kostum Elfin berwarna emas itu terdiri dari siger (mahkota) dan tapis Lampung. Siger adalah mahkota khas Lampung yang dikenakan pengantin perempuan. Tapis warna merah memperindah penampilan.
”Saat saya mendengar kita meraih kostum nasional terbaik, saya langsung teriak. Prestasi ini memang harus milik kita. Saya ingin Indonesia ditakuti karena kostum nasionalnya,” ungkap Fariz.
Saat ini, Puteri Indonesia Pariwisata 2014 Estelita Liana yang akan berlaga di ajang Miss Supranational 5 Desember di Warsawa, Polandia, juga mengenakan karya Fariz. Untuk Estelita, Fariz mengkreasikan keragaman budaya dan kekayaan alam Kalimantan. Tema ”Warrior Princess of Borneo” mengangkat eksotisme burung enggang. Di tangan Fariz, busana nasional itu terlihat megah dan anggun layaknya kostum karnaval.
Hal ini diraih bukan dengan begitu saja namun dengan penuh perjuangan.  Nama pengajar Sekolah Mode ESMOD Jakarta ini dikenal luas karena Jember Fashion Carnaval (JFC) ciptaannya.
Ia lulus dari Jurusan Seni Rupa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya dan menjadi pengajar disana. Beberapa tahun kemudian, ia memutuskan untuk menjadi seorang designer dan mendapatkan beasiswa di Sekolah Mode ESMOD, Jakarta. Sebagai desainer, dia mendirikan Dynand Fariz Center yang membuat pergelaran busana setiap tahun.
Meski telah menjadi designer di Jakarta, Dynand tetap mengingat tempat asalnya yaitu Jember.
Ia beserta keluarganya kemudian membuat suatu pergelaran karnival berkeliling ke rumah saudara-saudaranya dengan menggunakan pakaian tematik.
Dari sinilah muncul ide untuk membuat JFC yang dilaksanakan sampai dua kali setahun karena tingginya animo dari masyarakat.
Pada Agustus 2003, JFC 2 diselenggarakan dengan mengambil tema Arab, Maroko, India, Tiongkok, dan Jepang. Untuk tahun-tahun berikutnya, JFC rutin digelar pada Agustus.
Sayangnya, JFC tidak selalu berjalan mulus. Acara menarik yang dikemas seperti kemeriahan karnaval di Rio de Janeiro, Brasil ditentang oleh DPRD kota Jember dan diminta untuk menghentikannya karena dianggap mau merusak generasi muda, padahal persiapan sudah dilakukan.
Dynand lalu mendatangi DPRD dan bertanya apakah mereka tahu karnaval itu seperti apa, dan tidak ada seorang pun anggota DPRD yang mengiayakan. Dyland kemudian mengundang seluruh anggota DPRD tersebut untuk datang ke acara karnavalnya dan melihat sendiri bagian mana yang merusak generasi muda.
Kini, setelah 11 tahun berlalu JFC bukan hanya terkenal di Indonesia, namun juga sampai di luar negeri.
JFC setiap tahun melibatkan 700 orang, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Mereka yang ingin berpartisipasi bisa mendaftar sebagai talent yang akan dilatih membuat konsep, merancang busana, merias diri, sampai berjalan di catwalk sepanjang 3,7 kilometer.
Menurut Dynand, Indonesia bisa menjadi tambang, bukan tambang emas atau batu bara melainkan tambang kreativitas.
Mulai dari JFC ini melahirkan karnaval-karnaval lain di daerah lain seperti Solo Batik Carnival yang pada waktu itu Dynand khusus di panggil oleh Gubernur kota Solo Joko Widodo.
Sejak empat tahun lalu, Fariz mengusung kemeriahan karnaval khas Jember ini ke Jakarta. Akhir pekan ini, 29-30 November, masyarakat Jabodetabek bisa menyaksikan JFC di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Dalam sehari, pertunjukan dalam ruangan ini akan digelar dua kali, pukul 14.00 dan 19.00. Sebelumnya, penonton bahkan bisa mengobrol dengan para talent.
Tahun depan, keinginan Fariz memeluk dunia lebih lama diwujudkan dengan JFC ke-14 yang terbagi tiga bagian, karnaval, pameran, dan konferensi internasional. JFC akan mengundang peserta dari seluruh dunia untuk berkarnaval.

JFC ini benar-benar merupakan karya anak bangsa Indonesia yang harus ditiru dan dilestarikan. Karena Indonesia memang sudah mempunyai beragam kreativitas unik dan menarik yang tidak kalah dari negara-negara lain. Tinggal kita sebagai generasi muda sekarang ini, mau mengembangkannya bukan hanya di Indonesia tetapi juga sampai luar negeri.
Seperti kata Dynand Fairuz, "Kita bisa jadi kota tambang, bukan emas atau batubara, tetapi tambang kreativitas."

Gambar.1.http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000010363783

Dynand Fariz 
♦ Lahir: Jember, 23 Mei 1963
♦ Pendidikan:
- 1979-1984: Seni Rupa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya
- 1996-1999: Beasiswa  Program Combination di Sekolah Mode ESMOD, Jakarta
- 1999: Training Teacher di ESMOD Perancis
♦ Karier:
- 1985-sekarang: Dosen Program Tata Busana di Unesa, Surabaya
- 1999-sekarang: Pengajar  Pattern Drafting  ESMOD Jakarta 
- 2000-sekarang: Pendiri dan Presiden Jakarta Fashion Carnaval  
- 2006-sekarang: Anggota Indonesian Social Entrepreneur, Ashoka, Washington DC
♦ Prestasi:
- 1999: Best Costume & Unique Costume ESMOD St Chaterina Day
- 2007: Performing Art di Indonesian Reception Day, Mumbay, India
- 2008: Penghargaan Putra Terbaik Jember 
- 2011: Rancangan Dynand Fariz  meraih Best National Costume di Mr Universe Republik Dominika
- 2014: Rancangan Dynand Fariz meraih Best National Costume Miss International 2014 di Tokyo Jepang

Sumber: www.print.kompas.com
Gambar.1.http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000010363783